Tampilkan postingan dengan label Otomotif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Otomotif. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Mei 2012

Yamaha Byson, Puas? Puas? Puas?


Semua orang yang modifikasi punya alasan kurang puas. Termasuk Omang Abdul Somad juga kurang puas dengan Yamaha Byson standar. Sebagai wujud pelampiasan supaya puas, diubah meniru moge Yamaha R6.

Bengkel modifikasi sekaligus toko variasi Deni Motor (DM) di Jl. K.H Abdul Halim No. 182, Pasar Balong, Majalengka jadi rujukkan Omang mencari kepuasan. “Semua tampilan mengacu R6. Namun tidak semua persis. Ada beberapa yang dikolaborasi dengan pemikiran saya dan kang Deni,” tutur pengusaha konveksi celana jeans OMG Colection ini.

Bagian pertama yang diubah tangki Byson. Demi mengejar kesan yang besar seperti layaknya R6, dibuat rada gambot. “Bahannya terbuat dari pelat besi. Namun masih aman dan juga tidak terlalu berat. Kapasitas penampung bensin juga sedikit meningkat,“ ungkap Deni.

Lanjut sektor depan. Fairing model R6 berikut lampu diterapkan. Namun fairing tersebut sedikit alami ubahan, terutama bagian tengah hingga ke bawah. Tapi, sebelumnya Deni sengaja memasang rangka besi model tubular di bodi tengah sekitar bawah tangki.

“Meskipun rangka tertutup fairing, karena fungsinya sebagai penguat aksen saja. Agar kesan kekar yang ditampilkan terlihat makin jelas,” cuap modifikator yang bergelar Sarjana Hukum ini.

Bagian buritan juga kena ubahan. Sektor belakang tersebut dibuat dengan model sedikit runcing menyesuaikan dengan depan yang terlihat makin futuristik.

“Konsepnya meniru model R6 juga. Namun ada sedikit ubahan yang merupakan hasil ide dari saya dengan Omang. Jok belakang juga berfungsi untuk boncenger. Cuma modelnya yang dibuat rada lancip, “ urai Deni.

Kini Deni bisa bertanya kepada Omang. Puas? Puas?

DATA MODIFIKASI
Pelek: Rossi
Ban depan: Corsa 120/60-17
Ban belakang: Corsa 150/60-17
Setang: R-Pro
DM: 085224062553

Yamaha Fino, Thai Look Antigalau

 
Kasat mata, modifikasi ala Thailand alias Thai look sangat mudah diaplikasi. Apalagi buat skubek, sudah banyak contohnya. Simple, minimalis, bermodal part bolt on, tinggal templok, beres dah. Ah, sampeyan salah. Ternyata, tak semudah yang dibayangkan.

Inilah yang dialami oleh Asep Sopandi kala modifikasi Yamaha Fino-nya. Pelajar SMA Santika Bambu apus ini, sampe rambutnya mau rontok. Bukan mikirin Ujian Nasional, tapi mikirin Ban depan yang selalu mentok sepatbor. Srok..srok..begitu tuh bunyinya kalau dipakai jalan.

Problem ini muncul kala mengaplikasi paduan ban dan pelek ukuran 17 inci dari Takasago Excel Gold. Kan, aslinya Fino mempunyai lingkar roda 14 inci. Diameter lebih besar inilah yang akhirnya mentok ke sepatbor.

Setelah semedi semalam suntuk, akhirnya dapat wangsit kudu ganti Tabung sok. Pilihan jatuh pada part aftermarket bermerek Trusty. Tabung ini dipilih karena warnanya ngejreng dan ceria. Dijamin antigalau.

Saat pemasangan tak ada kendala. Langsung plek. Tapi, saat dicoba jalan, motor jadi berat, dan muncul bunyi ‘galau’ di sepatbor depan. Tetap saja, problem galau pada ban gak teratasi.

Rambut warga Cipayung sudah hampir botak. Untung saja ada Engkos, kakak kandungnya.  Dia bukan pawang rambut rontok, tapi modifikator yang mengibarkan bendera Bandung Matic Shop (BAM’S).      

Engkos hanya menyarankan menambahkan oli sok sebanyak 1,5 ml. Alasannya, dengan oli lebih banyak maka reboundnya lebih keras. Kelihatannya remeh. Tapi, terbukti ampuh.

Sim salabim, galau di sepatbor pun ilang. Selesai? Belum. Masih ada galau susulan. Pelajar yang masih dag dig dug menunggu kelulusan  SMA ini tak mau setengah-setengah mengaplikasi aliran Thai look. Jarahan berikut pada teromol.

Merujuk motor Thailand, teromol dicoak layaknya dragster. Tapi, mencari teromol coak, sampai lebaran monyet apalagi lebaran haji enggak ada yang jual. Bikin galau lagi.

Enggk ada jalan lain, part orisinal pun dikorbankan. Meskipun akibatnya, speedomoter tak lagi berfungsi karena kabel ikut ditendang.         

Masih berfikir modifikasi Thai look itu mudah? Tanyakan pada rumput yang bergoyang.

DATA MODIFIKASI
Ban depan : Swallow 60/80-17
Ban belakang : Swallow 70/80-17
Pelek depan : Takasago excel 1.40
Pelek belakang : Takasago execl 1.60
Jari-jari : Yaguso gold
Handle rem : KTC
Cakram : NUI
Sok depan : Trusty
Sok belakang : Gazi

Cek Throttle Position Sensor Suzuki New Shogun, Biar Tetap Ngacir!


 Throttle Position Sensor. Cek koneksinya jika New Shogun bolot
Di karburator Suzuki New Shogun dibekali TPS. Tapi, bukan Tempat Pembuangan Sampah apalagi Tempat Pemungutan Suara. "TPS (Throttle Position Sensor). Berupa sakelar otomatis di ujung atas karburator. Bekerja saat sensor tersentuh skep," jelas J. Antony Tan, Dari divisi 2W Service Instructor, Indomobil Suzuki International.

TPS berguna saat akselerasi. Membuat tarikan yahud, juga emisi ramah lingkungan. Makanya, kalau tarikan Shogun terasa berat dan emisi berbau sangit, Anthony mengajak ngecek fungsi TPS. "Biasanya konektor terputus. Bisa karena kotoran," jelasnya.

Sebenarnya, jika koneksi TPS putus, kerja mesin tak ada masalah. Gak mbrebet, gak nembak. "Tapi, karena sensor tidak ada, CDI cuma bekerja 1 kurva. Kurva untuk akselerasi tidak aktif. Makanya, tarikan berat," urainya.

Servis TPS gampang. Awalnya, cek koneksi TPS dengan multitester. Jika jarum bergerak, TPS tak masalah. Lalu, lepas TPS dari karbu dengan obeng. Lanjut lepas switch dari rumahnya. "Jangan sampai pernya lepas. Kalo gak biasa, sulit pasangnya," wantinya.

Masalah koneksi terputus biasanya karena tembaga konektor kotor. Jadi, bersihkan keraknya. "Gunakan ampelas halus. Sampai permukaannya mengilap, tapi tidak sampai banyak mengerus tembaga. Setelah itu tinggal rakit kembali," tutup Anthony. Ngacir lagi, deh!

Pompa Oli Honda Blade dan Supra X 125 Balap, Adopsi Gigi Pompa Oli Tiger!

Pas untuk mesin modif di atas 10.000 rpm
Salah satu prediksi motor Honda keok di roda race yaitu pompa oli standar yang kurang mumpuni. Jika putaran di atas 10.000 rpm wajib diganti supaya mesin lebih tahan lama.

Beberapa tim pabrikan sudah disupport pompa oli khusus buat Blade dan Supra X125 ini. Pompa oli special dari PT Astra Honda Motor (AHM) ini sudah diperkenalkan dan sudah diuji tim balap Honda asal Jawa dan luar Jawa.

Pompa oli ini diklaim memiliki keunggulan bukan cuma dimensinya yang lebih besar dari part asli. Tapi, dilihat dari konstruksinya yang didesain ulang, mampu menyuplai pelumas lebih deras dan bertekanan tinggi di kondisi rpm berapapun.

“Kalau melihat bentuknya, keunggulan pompa oli ini bukan cuma tekanan yang kuat. Tapi, juga deras memompa oli dari bak karter. Makanya mesin berputar lebih tinggi dari standar bisa dibilang cocok pakai pompa oli ini,” ujar Adlan Songa, mekanik tim Honda MS Nissin Top 1 KYT FDR Denso TDR.
Jumlah giginya ada 7 dan tebalnya 4 mm
Meski baru mau dipakai, mekanik dari rider Owie Nurhuda ini yakin. Pompa oli yang disuplai PT AHM itu dapat mengurangi kelemahan motor garapannya yang sedang fokus riset durability pada motor balapnya. Apalagi model pompa oli ini dipercaya Songa lebih tahan bilamana oli terkadung gram bekas gesekan material.

Hal senada juga dilontarkan Sartogu Munthe, mekanik tim Honda Banten NHK Nissin FDR. Meski baru dapat dari tim riset PT AHM dan belum sempat dipakai, pompa oli special ini katanya lebih tangguh dibanding pompa oli standar.

“Sudah saya bongkar, jumlah mata giginya ada 7 dan tebalnya 4 mm. Lebih besar sedikit dari asli. Sehingga mampu mengalirkan pelumas ke komponen mesin lebih banyak juga bertekanan lebih tinggi. Mesin bisa lebih awet dipakai,” imbuh mekanik Gerry Laurent ini.

Munte juga memaparkan kalau mata gigi pompa oli tersebut katanya dari motor Tiger yang ruangnya dicostum ulang. Dan seperti kita tahu, kapasitas silinder dan rpm mesin Tiger di atas rata-rata motor bebek.

Per Kopling Honda Tiger Sama Seperti Yamaha Jupiter MX?

 Berbeda harga

Salah satu pemain besar komponen yang enggak bisa disebut nama, punya daftar substitusi part. Seperti per kopling alias spring clutch. Salah satu yang ketahuan oleh mata MOTOR Plus kalau spring clutch Honda Tiger dan Yamaha Jupiter MX 135 bisa saling tukar.

Karena itu, MOTOR Plus agak penasaran. Beberapa mekanik dan dedengkot Tiger dimintai infonya. “Jujur bro, belum ada yang pakai. Emang bisa?,” tanya Andi ‘Bogel’ Maulana, salah satu dedengkot Ikatan Motor Tiger (IMTI) Jogja.

“Iya, saya juga baru tahu kalau bisa saling tukar. Tapi, prinsipnya sih selama dimensinya sama, terutama diameter dalamnya persis bisa saling pakai,” urai Bronto ‘Bronx’ Laras, mekanik dan pemilik bengkel Mandiri Motor, Jakarta Barat.

Ok prinsipnya sih silakan cek deh ukuran tinggi dan diameter dalam per kopling Tiger dan MX. Pas dicek, tinggi pegas kopling Tiger 38,30 mm dan tinggi spring clutch MX 40,4 mm. Diameter dalam per kopling Tiger 12,9 mm dan MX lingkar spring koplingnya 13,25 mm. “Seandainya lebih tinggi mungkin agak keras sedikit kalau per kopling MX dipasang di Tiger,” urai Bronx yang bermarkas di Jl. Panjang, Jakarta Barat.

Giliran Yongi Setiady dari Yong’s Motor, Bandung, menimpali. “Benar, memang bisa saling pakai kok. Soal per kopling Jupiter MX lebih tinggi enggak masalah karena meski lebih tinggi tapi daya tekananya enggak sekeras Tiger yang springnya lebih pendek,” urai Om Yong, panggilan akrab Yongi Setiady yang bermarkas di Jl. Lengkong, No. 44, Bandung.

Om Yong bilang per kopling Honda Tiger yang lebih keras meski tingginya lebih rendah dibanding MX. “Tapi, ukuran per Tiger lebih tebal dibanding MX. Makanya, meski pendek, per Tiger jadi keras,” urai Om Yong.

Menyangkut per kopling Tiger yang dianggap lebih keras dibanding MX akan punya efek. Seandainya spring clutch Tiger dipakai untuk MX bisa jadi responnya lebih cepat. Persis seperti kopling kompetisi. Tapi, ada resiko kampas kopling akan cepat habis.

Begitu juga sebaliknya kalau per kopling MX diaplikasi buat Tiger. Tentunya pas handel kopling ditekan akan lebih lembut, tapi bukaan clutch tidak akan maksimal. Jadinya masih ada gesekan antar kampas meski kopling bebas.

Untuk banderol per kopling Tiger dijual per satuan Rp 7.000, sedangkan MX dilego per satu bijinya Rp 10.000. Berarti per kopling Tiger lebih murah Rp 3.000 dibanding MX135.

Mau yang mana?  (motorplus-online.com)  

Modifikasi Shim Tappet, Kembalikan Celah Klep Suzuki Satria FU150


 Ampelas bagian shim yang tidak ada kodenya
Setel klep Suzuki Satria F-150 memang beda. Karena mekanisme klepnya tidak pakai rocker arm, melainkan pakai tappet. Didukung shim atau pelat bundar seperti pil sebagi pengganjal kerenggangan klep saat diukur feeler gauge.

“Cuma berhubung enggak pakai rocker arm, yang perlu diatur ketebalan shim itu. Untuk mengembalikan kerenggangan klep seperti semula,” bilang Didin Rosidin, mekanik Oryx Motor.

Misalkan celah klep intake standar pabrik dipatok 0,10~0,20 mm. Trus celah yang sekarang dipakai 0,15 mm dengan ketebalan shim 1,70 mm. Begitu ukur clearance pakai fueler sudah mencapai 0,23 mm atau sudah naik 0,08 mm, otomatis ketebalan shim harus diganti supaya celah tappet kembali ke 0,15 mm.

“Makanya harus melihat tabel ketebalan shim untuk sinkronisasi. Ukuran ketebalan shim yang harus dipakai 1,80 mm. Atau ketebalan shim naik 0,1 mm dari ukuran awal yaitu 1,70 mm biar celahnya tetap sama,” imbuh mekanik di Jl. Cipatik, No. 46, Soreang, Bandung itu.

Cuma kendalanya, terkadang untuk mendapatkan ketebalan shim yang sesuai suka susah. Ukuran shim di pasaran bisa lebih tebal atau sebaliknya, sehingga untuk menentukan kerenggangan saat seting klep jadi tidak maksimal.

Nah, biar setingan klep tetap kembali normal, kalau susah dicari, saran Didin mending beli shim lebih tebal. Shim tebal bisa dipangkas.

Caranya tebal shim dikurangi sesuai keperluan pakai ampelas paling halus. Biar hasilnya akurat, gunakan outside micrometer mulai dari ukuran 2,00 mm sampai rentang 1,80~1,70 mm biar celah klepnya seperti semula,” wanti Didin menyarankan agar bagian shim yang berkode angka jangan diampelas.

Nih Penyebab Ada Air di Moncong Knalpot


Wajar bila pengendara khawatir bila ada air keluar dari moncong knalpot saat mesin pertama kali dihidupkan. Ada dugaan air berasal dari ruang mesin yang dipicu kebocoran radiator, atau terjadi kerusakan kecil yang bila didiamkan dapat memperparah keadaan.

Padahal, keluar air dari knalpot tidak mengindikasikan bahaya, tapi justru karena proses kimia biasa. Penjelasan rumus kimianya, bahan bakar atau bensin C8H18. Saat proses pembakaran, unsur ini berpadu dengan udara (02). Formula kimianya 2C8H18 + 25O2, setara dengan 16 CO2 + 18H2O.

Perhatikan rumus kimia terakhir. Di sana tertera H2O. Nah, H2O inilah yang disebut air. Akan terlihat pada ujung knalpot, terutama pada saat posisi mesin idling atau langsam.

Makanya tak perlu cemas lantaran menandakan pembakaran berlangsung sempurna. Dalam artian, campuran bahan bakar dan udara ideal, timing pengapian dan bunga api tepat, serta tekanan pembakaran (kompresi) cukup.

Saat musim hujan, potensi terlihatnya air menetes dari knalpot bisa semakin besar. Hal ini dipengaruhi temperatur udara sekeliling yang dingin. Apalagi pagi hari.

Kamis, 08 Desember 2011

Bore Up Suzuki Spin? Pakai Tutup Head Skywave, Gak Gampang Panas!


Bore Up Suzuki Spin? Pakai Tutup Head Skywave, Gak Gampang Panas!

Suzuki Spin 125 atau motor apapun yang sudah dibore up atau stroke up, pasti terjadi tekanan besar di ruang karter dan juga ruang kepala silinder.

Tekanan akan memicu panas tinggi. Makanya tekanan ini harus dibuang supaya tidak bikin mesin overheat. Banyak yang memasang slang pernapasan tambahan.

Slang pernapasan di pasang dari tutup klep. Ada yang berupa pagoda yang ujungnya disambung slang. Ada juga yang dipasang lubang tambahan di lubang tutup pemasukan oli di karter.

Slang pernapasan itu ada yang dibiarkan langsung ketemu udara luar. Atau ada juga yang di masukkan ke tabung pernapasan atau oil cath tank.

Di Suzuki Spin 125 korekan Mas Nis, agar tekanan di kepala silinder rendah, diatasi dengan cara menggukan tutup head dari kepunyaan Skywave. 

Volume tutup head Skywave tentu lebih gede. Sehingga tekanan jadi rendah dan juga tidak bikin panas mesin. (motorplus-online.com)

Selasa, 06 Desember 2011

Yamaha Mio Soul, Standaran 500 Meter



Pemain kebut malam trek 500 meter di wilayah Jakarta Timur dan Bekasi pasti tahu dengan tunggangan Iqbal ini. Mio Soul garapan Manspeed dari Jl. Raya Jatibening Baru No. 14, Jatibening, Bekasi, Jawa Barat. Kapasitas mesin 211,8cc. Mangtap!

Pemiliknya, Uyung dari Jakarta Timur,  percayakan setingan pada Eman yang bos Manspeed itu. Dia kondang garap motor matik liaran. 

Begitu dipercaya, Eman fokus mengubah setingan standar Mio Soul ini dengan bore up. Piston standar diganti punya Honda CBR 150R yang sudah oversize 200. Sehingga diameter melar dari standar 50mm jadi  65,5 mm.  

Tentu harus diiringi dengan penggantian boring. Dengan menggunakan piston CBR, posisi piston bisa dibuat lebih mendem 2,5mm. Sehingga stroke atau langkah piston bisa naik-turun 2,5 ccm. Total kenaikan stroke 5 mm. Kini kapasitas silinder bisa dihitung, jadinya 211,8 cc.

Naik stroke cukup dilakukan menggunakan pen stroke. Sehingga kruk as masih standar. Paling penting lagi, paking blok masih selembar kertas. Dari luar terlihat seperti motor standar ting-ting yang bukan Ayu Ting Ting sedang Mencari Alamat itu. 

Bisa turun untuk kelas standaran. Kalo orang bilangnya murni tanpa strukan," jelas Eman dari bengkelnya di depan gerbang kompleks AL, Jatibening, Bekasi.   

Untuk kem, mekanik yang pernah berguru pada Om Chia di tim Suzuki beberapa tahun lalu ini, menggunakan klep in 34mm dan buang 29mm. Batangnya 5 mm dari bahan stainless. Dan per klep buatan sendiri dengan label Man Product.

Kem produk CMS dengan durasi klep in 274º. Membuka 33º sebelum TMA (Titik Mati Atas) dan menutup 61º setelah TMB (Titik Mati Bawah). Sedangkan klep buangnya punya durasi 279º. Membuka 64º sebelum TMB dan menutup 35º setelah TMA. 

Pengapian dan karbu standar dengan main-jet mencapai 130 dan pilot-jet 50. Pengaturan semburan bensol yang masuk ke ruang bakar dengan karburator standar yang direamer hingga 31mm dari aslinya 24mm. Untuk rasio kompresi ruang bakar menjadi 13,8:1. "Dengan begitu akan lebih cepat mencapai 500 meter," terang Eman. 

Knalpot sudah diganti saringan dan leher dipilih pakai yang besar. Dari standar 24 menjadi 27 mm. Siap cari duit!   (motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI
Ban depan : Swallow 160/60-17
Ban belakang : Swallow 140/70-17
Sok belakang: YSS
Pelek : DBS  
Manspeed : 0815-1415-2487

Gaya Modif Satria Terpopuler



Satria F-150 masih jadi dagangan Suzuki paling laris saat ini. Sodoran dapur padu yang punya spek DOHC banyak diminati penikmat kecepatan, termasuk Agus Wijaya yang sudah mengincar besutan bebek sport ini sejak lama. 

Ogah tampil standar, motor dimodifikasi mengikuti arus. Maksudnya menyesuaikan gaya yang sedang happening bagi pemilik Satria F. “Pokoknya style kaki-kaki kurus, macam tongkrongan besutan Thailand yang banyak diminati saat ini,” papar pria yang tinggal di Tengerang ini. 

Jadi, kaki-kaki yang aslinya adopsi pelek casting wheel atau pelek palang diganti model jari-jari, berpadu dengan ban tipis ala motor adu kebut di trek lurus. “Biar lebih lincah setang standar sedikit ditekuk posisinya ke dalam,” lanjut Agus lagi. 
Bagian bodi masih mengandalkan kelir bawaan motor. Cuma biar tampilan lebih ngisi lagi, juga sudah diberi striping yang dirasa cukup mengandalkan cutting sticker. “Desain berupa tarikan garis yang tipis dengan memaikan kelir merah, abu-abu dan hitam,” urai Agus Witjax dari bengkel Witjax Modizigner yang mengerjakan proses cutting sticker ini.  

Masih ngomongin area mesin. Lantaran masih buat aplikasi harian, mesin masih tetap andalkan spek standar. Cuma biar akselerasi lebih responsip, diaplikasi knalpot racing R9 yang katanya berbahan titanium. "Tinggal buka gas sedikit saja udah ngacir nih motor," pede Agus. (motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI
Ban depan  : FDR 80/60-17
Ban belakang   : FDR 90/70-17
Knalpot     : R9 Titanium
Pelek  : DBS 
Agus Widjax : 0856-633-0226 

Yamaha Mio, 250 cc Paking Selembar



Ini tantangan yang menarik. Mengorek Yamaha Mio sampai extrem tapi tampilan mesin terlihat standar dengan yang powernya bengis. Itulah cara yang dilakukan Chandra Sopandi dari bengkel bubut Master Tjendana, Bandung.  

Merakit Yamaha buat untuk balap liar sekaligus drag resmi. Chandra akali supaya bisa mendongkrak kapasitas silinder sebesar-besarnya namun tampilan mesin standar. Caranya ditempuh dengan bore up dan stroke up tapi paking masih selembar.

Aksi bore up paling gampang ditempuh. Tekniknya aplikasi seher besar yang dicomot dari Honda CBR 150R. “Dipilih yang punya diameter 67,5 mm,” jelas pebengkel yang bermarkas di Jl. Pagarsih, No. 146, Bandung itu.

Wah, besar banget ya. Itu sih sama saja dengan aplikasi seher CBR 150R oversize 400. Kan standarnya hanya 63,5 mm. Tapi, tidak aneh karena seher besar ini sudah banyak di pasaran. 

Selanjutnya Chandra berpikir agar naik stroke besar tapi paking blok tetap standar alias selembar kertas. Sebab kalau menggunakan seher CBR dan setang seher standar, kenaik tertinggi maksimum 6 mm. Chandra mau yang lebih extrem lagi.

Lantas Chandra berpikir menggunakan setang seher yang lebih pendek dari asli Mio. Namun dipastikan piston akan mentok bandul kruk as ketika posisi TMB (Titik Mati Bawah).

Supaya aman, Chandra memang pilih setang seher yang lebih pendek. Tapi, big end dipilih yang lebih kecil. Teknik naik stroke tidak menggunakan pen stroke. Dia lebih memilih menggeser lubang big end di bandul kruk as. 

Akhirnya melalui perhitungan yang matang dan beberapa kali percobaan didapat hasil memuaskan. “Korbannya beberapa seher pecah akibat menabrak bandul kruk as,” jelas Chandra yang sudah mengorbankan 4 seher untuk riset.

Kini stroke atau langkah seher sudah naik lumayan extrem. Sudah lebih naik 12 mm. Jadinya kapasitas silinder bisa dihitung. Menggunakan kalkulator dipadukan dengan diameter seher yang 67,5 mm, maka kapasitas silindernya jadi 250 cc.

Suatu angka yang lumayan besar. Namun dari beberapa kali tes dengan jarak 201 meter belum didapat waktu yang mendekati motor-motor 300 cc Thailand. Mungkin karena berat joki. 

Tapi, untuk ukuran motor balap liar bisa dibilang lumayan. Tinggal seting rasio dan komponen CVT. Menyesuaikan jarak yang akan ditempuh. Kini rasi sudah menggunakan ukuran 15/38 karena untuk trek 201 meter.
klep 34/30
Sebagai tukang pasang klep besar, dipastikan mudah aplikasinya. Untuk kapasitas silinder yang sudah buncit, Chandra memilih menggunakan klep isap 34 mm. Sementara klep buangnya pilih yang 30 mm.

Lubang isap dikorek sampai dengan 31 mm. Untuk lubang buangnya dibikin jadi 28 mm. Suplai bahan bakar menggunakan karbu Mikuni 30 mm. Jenisnya jadul abis karena pengabut bahan bakar tipe ini sempat ngetop sebelum karbu RX-King beken.

Spuyernya diseting sesuai suhu Bandung. Main-jet menggunakan ukuran 135 dan pilot-jet 35. Ukuran spuyer ini tanpa reamer karburator.  

Untuk per klepnya menggunakan pegas punya Honda Sonic. Namun dimodifikasi lagi supaya punya lift yang lebih tinggi. Juga supaya lebih keras lagi. 

Paling penting lagi, penggunaan knalpot. Kata mekanik nyentrik ini, pilih menggunakan buatan dewek. Bentuknya lebih panjang yang katanya lebih bertenaga di trek panjang. (motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI
Roller : Rata 12 gram
Rumah roller: Big pulley
Per CVT : 2.000 rpm
Ban belakang : Eat My Dust 60/90-17 
Master Tjendana: 0811-22-7871


Yamaha Mio, Jajal Piston Baru


Yamaha Mio, Jajal Piston Baru


Yamaha Mio yang digeber Heru Susanto, mampu bertengger di podium 2 kelas 150 cc Open. Tepatnya pada ajang final MOTOR Plus Indonesian Super Matic Race 2011 lalu di Cirebon. Juara satunya sudah dibahas dua Minggu lalu,

Menurut Bang Jay yang menangani pacuan Heru Susanto, balap di Cirebon lalu lagi jajal sekaligus riset piston baru. “Mereknya TKRJ asli Jepang,” jelas Bang Jay yang punya nama lengkap Zaenudin dari Eka Jaya Motor itu.

TKRJ memproduksi piston untuk balap matik dan bebek. Seperti untuk kelas 150cc khusus Yamaha Mio. “Diameter seher ukuran 57mm, 57,25mm dan 57,50mm,” sebut M. Firmansyah dari Takara Indo Suplies, importir dan distributor TKRJ Japan Product.

Yang digunakan oleh Bang Jay baru lalu, ukuran 57,00mm. Supaya dipakainya step by step. Kemudian bisa menyusul oversize. Kapasitas silinder yang dicapai baru 147,7cc. Kalau nanti sampai mentok, aplikasi yang 57,5mm, kapasitas silinder 150,3cc. Belum melanggar regulasi, karena dibolehkan sampai 150,9 cc.

Untuk penggunaan ring piston bisa menggunakan milik Suzuki Thunder 125 oversize 0 sampai 50. Kalau tidak dijumpai milik Thunder, bisa pakai ring piston GL-Pro Neo Tech. “Selain lebih murah juga gampang dijumpai,” jelas Bang Jay yang pakai nama tim TKRJ Kawahara Biker 46 itu.

Menurut Firman lagi, untuk ring piston punya Neo Tech yang digunakan dari oversize 50 sampai 100. Namun nantinya tidak perlu repot. Kalau hasilnya sudah bagus, akan dipasarkan sudah termasuk ring piston. Jadi tidak perlu repot.

Perlu diperhatikan, piston ini sudah jenong. Untuk menggunakannya harus ukur ulang kompresi. Jenongnya silakan dipapas. Seperti Bang Jay menggunakan kompresi 12,5 : 1. Karena bahan bakar yang digunakan yaitu Pertamax Plus.

Selain menggunakan piston baru, kepala silinder pakai klep isap 29mm dan buang 24mm. Berdasarkan pengujian menggunakan flowbench didapat 105 CFM di lubang isap.
Intake Matik Bantu Flow
Di Yamaha Mio pacuan Heru Susanto yang podium 2 kelas 150 cc Open itu, juga menggunakan intake manifold khusus matik. Sehingga membantu flow ketika diukur menggunakan flowbench.  

Intake yang tidak menghambat laju gas bakar itu buatan AHRS. Secara desain dan ukuran memang menguntungkan. Bukan semata lebih pendek, tapi juga mampu membuat laju gas bakar lebih fokus langsung menuju ruang bakar.

Selain itu, ketika dipasang di kepala silinder dengan posisi mesin tiduran, arah moncong depan karburator lebih turun.  Sehingga menguntungkan, karena pelampung tidak cepat menutup. Bensin di bak karburator tidak mudah habis. Enggak bikin kering ruang bakar.

 Namun supaya awet, lebih bagus digabung dengan intake manifold  khusus untuk Suzuki TS125. Membuat lebih tahan panas dan tidak mudah lentur ketika kena suhu tinggi. Apalagi karburator yang dipakai juga gambot. Keihin PE 28 atau yang venturinya sama.  (motorplus-online.com)

 DATA MODIFIKASI
Ban : Indotire 
Knalpot : Kawahara
Roller : Kawahara
Spuyer : Kawahara
CDI : BRT

Penulis : Aong

 
Design By WIN7KOM | Published By Akbar Ramadhan